Sunday, 18 December 2016

Pupuk Indonesia Akan Bangun Pabrik Petrokimia Baru

PT Pupuk Indonesia (persero) akan ekspansi membangun pabrik petrokimia di Papua.Menurut rencana, proyek pembangunan pabrik petrokimia tersebut akan dibangun di kawasan Kabupaten Teluk Bintuni dengan luas lahan sekitar 2.112 Ha.

pupuk.indonesia.akan.bangun.pabrik.petrokimia

PT Pupuk Indonesia telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah setempat untuk pembangunan kawasan industri tersebut serta menjadi pengelola kawasan dengan melibatkan anak-anak perusahaan yang bergerak di bidang utilitas dan logistik seperti PT Pupuk Indonesia Energi dan PT Pupuk Indonesia Logistik.

Kawasan industri Bintuni di Papua memang banyak dilirik pelaku industri dari luar negeri maupun lokal untuk mengembangkan pabrik petrokimia. Salah satunya adalah PT Pupuk Indonesia (Persero).

Baca juga :


PT Pupuk Indonesia bersama dengan tim dari Kementrian BUMN dan Kementrian Perindustrian telah melakukan pengkajian untuk pembangunan pabrik petrokimia di kawasan industri Bintuni.Kajian tersebut berupa skema dan keekonomian proyek, serta proyeksi kebutuhan gas bumi.

"Berdasarkan kajian tersebut, untuk pengembangan Tahap-I di Bintuni kami akan mengembangkan industri Petrokimia, yaitu methanol dan berbagai turunannya seperti ethylene, propylene, polyethyiene dan polypropylene. Untuk tahap kedua, kita akan kembangkan pupuk NPK", kata Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Untuk tahap pertama, nilai investasi diperkirakan mencapai US$1,5 miliar atau setara Rp20 triliun (kurs BI Rp13.524 per dolar AS). Kebutuhan dana tersebut akan dipenuhi dari kas internal dan eksternal.

Ia memperkirakan, pasokan gas yang dibutuhkan untuk mengembangkan proyek tersebut mencapai 124MMSCFD, dengan harga keekonomian sekitar US$3 per MMBTU.

"Untuk mendukung keekonomian proyek, kami juga berharap dukungan pemerintah dalam membangun infrastruktur kawasan", kata Wijaya.

Sebelumnya, Pupuk Indonesia bermaksud mendirikan pabrik pupuk urea baru di kawasan tersebut. Namun melihat kondisi pasar internasional saat ini ditambah harga gas sedang tinggi, proyek tersebut menjadi kurang prospektif sehingga beralih ke pembangunan pabrik petrokimia.

"Harga komoditi urea sedang anjlok dan harga gas kita masih cukup tinggi dibandingkan negara lain sehingga produk urea kita sulit bersaing, maka kami berencana beralih mengembangkan produk petrokimia", kata Wijaya.

Untuk itu, Pupuk Indonesia pada Oktober 2016 lalu telah mengajukan permohonan alokasi dan harga gas industri kepada Menteri ESDM. Alokasi yang diminta adalah 130 MMSCFD dengan harga US$ 3/MMBtu.

"Kami juga telah melakukan diskusi dengan sejumlah mitra strategis untuk proyek tersebut," kata Wijaya.Sumber : finance.detik.com

Rencana proyek pembangunan pabrik petrokimia di kawasan industri Bintuni ini tentunya akan membuka peluang kerja untuk para pekerja proyek.Tak terkecuali pekerja proyek konstruksi,fabrikasi dan erection,pipe fitter,mechanical serta masih banyak lagi kesempatan kerja di sana.Mudah-mudahan.